Laporan Inflasi Aceh Februari 2026

Resume Inflasi
Ringkasan indikator utama inflasi Provinsi Aceh, Februari 2026.
Deflasi Aceh pada Februari 2026 sebesar -0,24% (m-to-m) menunjukkan upaya penanggulangan harga bergerak ke arah positif. Penurunan harga terutama didorong oleh komoditas bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras.
Meskipun terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan (y-on-y) Aceh tetap sangat tinggi di angka 6,94%, menjadikan Aceh sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi secara nasional. Angka ini jauh di atas inflasi nasional 4,76%.
Perkembangan Inflasi
Perkembangan inflasi Aceh pada Februari 2026 tidak bergerak dalam satu arah yang sederhana. Di satu sisi, tekanan harga bulanan mulai mereda. Di sisi lain, akumulasi kenaikan harga tahunan masih menempatkan Aceh pada posisi yang sangat rentan. Bagian ini menyusun dua pembacaan tersebut secara berurutan: pertama melalui tren data, lalu melalui konteks kondisi harga yang membentuknya.
Tren Inflasi
Grafik berikut memperlihatkan bagaimana laju inflasi bulanan dan tahunan bergerak sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, sehingga perubahan jangka pendek dapat dibaca berdampingan dengan tekanan harga yang menumpuk dari tahun ke tahun.
Perkembangan inflasi Aceh Januari 2025 - Februari 2026
Pembacaan pertama menunjukkan adanya sinyal pelemahan tekanan harga dalam jangka sangat pendek. Pada Februari 2026, Aceh mengalami deflasi bulanan sebesar -0,24%. Angka ini mengindikasikan bahwa sebagian komoditas mulai turun dari level puncaknya, sehingga ruang stabilisasi harga mulai terbuka.
Namun pembacaan kedua justru menahan optimisme tersebut. Inflasi tahunan Aceh masih berada di level 6,94%, tertinggi secara nasional. Artinya, meskipun harga bergerak turun dalam satu bulan terakhir, level harga keseluruhan masih jauh lebih tinggi dibandingkan Februari tahun sebelumnya. Kontras inilah yang menjadi kunci: perbaikan jangka pendek sudah mulai terlihat, tetapi beban inflasi yang terakumulasi masih sangat berat.
Analisis Kondisi Inflasi
Setelah membaca pola angkanya, bagian berikut merangkum faktor-faktor utama yang menjelaskan mengapa Aceh masih menghadapi tekanan inflasi tinggi meskipun laju bulanan mulai membaik.
Inflasi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran
Setelah melihat arah inflasi secara umum, pembacaan perlu masuk ke struktur pembentuknya. Fokusnya bukan lagi sekadar apakah inflasi naik atau turun, melainkan kelompok pengeluaran mana yang menahan perbaikan, kelompok mana yang mulai mereda, dan mengapa perbedaan itu penting untuk menentukan ruang intervensi kebijakan.
Nilai Inflasi Tiap Kelompok
Nilai inflasi tahunan dan bulanan ditempatkan dalam satu bidang baca agar dua ritme yang berbeda itu dapat terlihat bersamaan. Dengan menempatkan y-o-y dan m-o-m berdampingan, kita bisa melihat kelompok mana yang masih menyimpan tekanan harga besar sepanjang tahun, dan kelompok mana yang sudah mulai menunjukkan koreksi dalam jangka pendek.
Dari grafik terlihat bahwa hampir seluruh kelompok masih berada dalam zona inflasi tahunan, tetapi gerak bulanannya tidak selalu searah. Sebagian kelompok sudah mulai melambat, bahkan turun, sementara kelompok lain masih mempertahankan tekanan kenaikan harga. Perbedaan arah ini penting karena menunjukkan bahwa masalah inflasi Aceh bukan lagi sekadar kenaikan serempak, melainkan kombinasi antara beban harga lama dan guncangan bulanan yang tidak merata.
Pola tersebut juga membantu menjelaskan mengapa headline inflasi terlihat kontradiktif. Ketika angka bulanan mulai membaik, sebagian kelompok masih menyimpan inflasi tahunan yang tinggi. Dengan kata lain, tekanan jangka pendek mulai mereda, tetapi struktur harga rumah tangga belum benar-benar pulih. Karena itu, pembacaan berikutnya perlu bergerak dari peta angka menuju sumber tekanan yang paling dominan.
Kajian Analisis Inflasi Tahunan per Kelompok Pengeluaran
Kajian berikut mempertahankan isi dokumen sumber dan hadir sebagai lanjutan langsung dari pembacaan grafik. Jika grafik menunjukkan polanya, uraian ini menjelaskan mengapa tekanan tahunan tetap tinggi dan kelompok mana yang paling menentukan inflasi Aceh.
1. Gambaran Umum Inflasi Y-on-Y
Inflasi tahunan (year-on-year) Provinsi Aceh pada Februari 2026 tercatat sebesar 6,94%, menempatkan Aceh sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi se-Indonesia. Angka ini jauh melampaui inflasi nasional sebesar 4,76% dengan selisih 2,18 poin persentase. Dari 11 kelompok pengeluaran yang tercatat, 10 kelompok mengalami inflasi positif dan hanya 1 kelompok (Pendidikan) yang mengalami deflasi tipis sebesar -0,08%. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga bersifat luas dan merata hampir di seluruh lini pengeluaran masyarakat Aceh.
2. Kelompok Pendorong Utama: Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar RT
Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar RT mencatat inflasi tertinggi kedua secara persentase yakni 16,98%, sekaligus menjadi penyumbang andil inflasi terbesar sebesar 2,37. Lonjakan ini terutama dipicu oleh hilangnya kebijakan diskon tarif listrik yang sebelumnya diberikan pemerintah pusat. Dengan bobot pengeluaran rumah tangga yang besar pada kelompok ini, dampaknya sangat signifikan terhadap indeks harga konsumen secara keseluruhan.
Catatan analisis
Kebijakan pencabutan diskon tarif listrik merupakan faktor administered price yang berada di luar kendali pemerintah daerah, sehingga intervensi TPID pada kelompok ini bersifat terbatas.
3. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Inflasi Tertinggi
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatatkan inflasi tertinggi secara persentase di antara seluruh kelompok, yakni 18,43% dengan andil inflasi 1,07. Pemicu utamanya adalah kenaikan harga emas perhiasan yang secara konsisten mengalami tren kenaikan sepanjang tahun terakhir. Harga emas yang bersifat komoditas global membuat kelompok ini sulit dikendalikan di tingkat daerah.
Catatan analisis
Harga emas perhiasan dipengaruhi oleh faktor pasar global (harga emas dunia dan nilai tukar rupiah), sehingga andil inflasi dari kelompok ini cenderung bersifat volatile namun non-intervensi di level daerah.
4. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mencatat inflasi sebesar 5,82% dengan andil inflasi 2,23 - menjadikannya penyumbang andil inflasi terbesar kedua. Angka ini mencerminkan masih tingginya tekanan harga pada bahan pangan pokok masyarakat Aceh, termasuk beras, daging ayam ras, telur, minyak goreng, serta bumbu dapur seperti cabai dan bawang merah. Kenaikan harga pangan menjadi persoalan krusial karena langsung memengaruhi daya beli masyarakat kelompok menengah ke bawah.
Wilayah yang terdampak bencana alam yaitu Aceh Tamiang dan Aceh Tengah menjadi penyumbang signifikan inflasi pada kelompok ini akibat terganggunya rantai pasok pangan lokal.
Catatan analisis
Kelompok ini merupakan area intervensi utama TPID melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, Subsidi Ongkos Angkut, dan operasi pasar lainnya.
5. Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran
Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran mengalami inflasi sebesar 8,86% dengan andil inflasi 0,95. Inflasi pada sektor ini berkorelasi erat dengan kenaikan harga bahan baku makanan dari Kelompok 1. Ketika harga bahan pangan naik, pelaku usaha kuliner dan restoran akan meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual. Selain itu, kenaikan upah dan biaya operasional turut memperparah tekanan harga pada kelompok ini.
6. Kelompok dengan Inflasi Moderat
Sejumlah kelompok mencatat inflasi pada level moderat: Kesehatan (2,81%, andil 0,05), Pakaian dan Alas Kaki (2,22%, andil 0,13), Rekreasi, Olahraga, dan Budaya (1,64%, andil 0,02), serta Perlengkapan dan Peralatan RT (0,98%, andil 0,04). Meskipun secara individu andil inflasi kelompok-kelompok ini tergolong kecil, secara kumulatif tetap berkontribusi terhadap inflasi umum.
7. Kelompok dengan Inflasi Rendah & Deflasi
Kelompok Transportasi (0,56%), Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (0,50%) mencatat inflasi sangat rendah yang mencerminkan stabilitas harga pada sektor tersebut. Sementara itu, kelompok Pendidikan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar -0,08% (andil mendekati 0), yang menunjukkan tidak adanya kenaikan biaya pendidikan yang berarti pada periode ini.
8. Struktur Andil Inflasi: Konsentrasi pada 3 Kelompok Utama
Analisis struktur andil inflasi menunjukkan bahwa 3 kelompok besar menyumbang 81% dari total inflasi: Perumahan/Listrik (andil 2,37), Makanan/Minuman/Tembakau (andil 2,23), dan Perawatan Pribadi/Jasa (andil 1,07) - dengan total andil gabungan sebesar 5,67 dari 6,94% inflasi umum. Sisa 8 kelompok lainnya hanya menyumbang andil gabungan sekitar 1,27. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi Aceh sangat bergantung pada kemampuan mengatasi tiga pilar utama: tarif utilitas, harga pangan, dan harga emas perhiasan.
Kesimpulan Kebijakan
Setelah terlihat kelompok-kelompok yang paling dominan, pembacaan bergerak ke konsekuensi praktisnya. Rumusan berikut diambil dari dokumen sumber sebagai simpulan tentang di mana ruang intervensi daerah paling efektif dan area mana yang tetap membutuhkan koordinasi lintas tingkat pemerintahan.
Dari perspektif kebijakan daerah, ruang intervensi TPID Aceh paling efektif tertuju pada Kelompok 1 (Makanan, Minuman, dan Tembakau) yang bersifat volatile food dan dapat dimitigasi melalui operasi pasar, subsidi ongkos angkut, serta penguatan rantai pasok pangan. Sementara itu, Kelompok 3 (Perumahan/Listrik) dan Kelompok 11 (Perawatan Pribadi/Emas) bersifat administered price dan komoditas global yang memerlukan koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat. Strategi jangka pendek yang tepat adalah memaksimalkan program Pasar Murah, GPM di 5 kota IHK, dan subsidi ongkos angkut guna meredam dampak inflasi pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Komoditas Dominan
Setelah pola tekanan terlihat pada tingkat kelompok pengeluaran, pembacaan bergerak ke komoditas yang benar-benar mendorong angka tersebut. Di sini, sumber tekanan tidak lagi dibaca sebagai kategori besar, tetapi sebagai barang yang langsung dirasakan rumah tangga dalam pengeluaran hariannya.
Grafik ini memperlihatkan bahwa tekanan harga di Aceh tidak dibentuk oleh komoditas yang tersebar merata, melainkan oleh beberapa komoditas yang andilnya sangat dominan. Di sisi inflasi, lonjakan tidak terutama datang dari banyak komoditas sekaligus, tetapi dari beberapa komponen yang daya dorongnya jauh lebih besar daripada yang lain.
Tarif Listrik ditempatkan sebagai pendorong inflasi paling dominan pada Februari 2026, diikuti oleh emas perhiasan dan komoditas pangan seperti beras. Sementara itu, deflasi terutama ditarik oleh koreksi harga komoditas pangan seperti bawang merah dan cabai rawit. Kontras ini penting: tekanan inflasi yang besar datang dari kombinasi administered price, komoditas global, dan pasokan pangan lokal, sehingga ruang intervensinya juga tidak bisa disamakan.
Inflasi Antar Kota
Setelah tekanan inflasi dibaca pada tingkat kelompok dan komoditas, pembacaan beralih ke sebaran wilayahnya. Perbedaan antar kota penting karena menunjukkan di mana tekanan harga paling tinggi terkonsentrasi, sekaligus kota mana yang paling menentukan arah statistik inflasi Aceh.
Grafik ini memperlihatkan bahwa kota-kota sampel IHK tidak bergerak dalam pola yang identik. Nilai IHK memberi gambaran tingkat harga yang sedang berlaku, sementara garis y-o-y dan m-o-m menunjukkan seberapa cepat tekanan harga itu berubah dari waktu ke waktu.
Aceh Tengah menonjol sebagai kota dengan IHK tertinggi sekaligus inflasi tahunan tertinggi, sehingga menjadi titik tekanan yang sangat menentukan pembacaan Aceh secara keseluruhan. Sebaliknya, Aceh Tamiang mencatat deflasi bulanan paling dalam, menandakan adanya koreksi harga yang lebih tajam dibanding kota lain. Kontras ini penting karena menunjukkan bahwa stabilisasi harga tidak cukup dibaca pada level provinsi saja; intervensi perlu diarahkan ke kota-kota yang paling memengaruhi statistik IHK resmi.
Indeks Perkembangan Harga (IPH)
Sebelum perubahan harga masuk ke statistik inflasi bulanan, dokumen sumber memakai IPH sebagai sinyal dini. Di titik ini, perhatian bergeser dari angka inflasi yang sudah terjadi menuju gejala awal pergerakan harga yang berpotensi membentuk tekanan pada minggu-minggu berikutnya.
Peta IPH memperlihatkan lokasi tekanan harga yang mulai menguat sebelum tercermin dalam rilis inflasi berikutnya. Pada source chart, Langsa, Subulussalam, dan Aceh Singkil berada di sisi tekanan harga yang paling tinggi, sementara Bener Meriah, Gayo Lues, dan Bireuen justru menunjukkan pelemahan harga yang lebih dalam. Kontras ini penting karena memberi petunjuk bahwa risiko inflasi mingguan tidak tersebar merata, melainkan bergerak sangat berbeda antar wilayah.
Jika dibaca pada tingkat komoditas, IPH menunjukkan bahwa tekanan harga tidak datang dari semua barang secara bersamaan. Kenaikan paling luas terlihat pada cabai merah, daging ayam ras, dan bawang merah, yang muncul di banyak kabupaten/kota pada saat yang sama.
Pada sisi lain, beberapa komoditas seperti cabai rawit, tomat, dan ikan tongkol justru menunjukkan tekanan yang menurun di lebih banyak wilayah. Kontras ini penting karena memberi sinyal bahwa risiko inflasi ke depan kemungkinan akan lebih banyak datang dari komoditas pangan tertentu, bukan dari seluruh kelompok pangan secara seragam.
Upaya Konkrit Pengendalian Inflasi
Setelah tekanan harga dibaca dari grafik, langkah pengendalian menjadi lebih mudah dilihat sebagai rangkaian respons yang bergerak dari pasar, distribusi, hingga antisipasi permintaan Ramadhan. Polanya juga cukup jelas: satu sisi menahan lonjakan harga yang sudah terasa, sisi lain menyiapkan bantalan agar tekanan berikutnya tidak langsung masuk ke angka inflasi resmi.
Akan/Sudah Dilakukan
Intervensi ini bergerak dalam dua horizon yang saling menyambung. Langkah yang sudah berjalan menunjukkan bagaimana stabilisasi dilakukan lebih dulu di titik pasokan dan pasar, sedangkan agenda berikutnya diarahkan untuk menjaga ritme pengendalian ketika permintaan bergerak naik mendekati Ramadhan dan Idul Fitri.
Langkah yang sudah berjalan dan agenda lanjutan
Sudah dilakukan
Sidak Pasar ke pasar Al Mahirah, pasar Lambaro, Gudang Bulog di Siron, retail modern dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 2026/1447 H pada tanggal 5, 9 dan 11 Februari 2026
•Satgas Pangan, Bapanas, Disperindag Aceh, Perum. Bulog Aceh
Sudah dilakukan
Pasar Tani pada tanggal 4 dan 11 Februari 2026
•Distanbun Aceh
Sudah dilakukan
Gerakan Pangan Murah (GPM) 4 Februari 2024 di Kios Pangan Aceh untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan menjelang Ramadhan. GPM serentak nasional 13 Februari 2026 di Kios Pangan Aceh
•Dinas Pangan Aceh
Sudah dilakukan
Pasar Murah di 23 Kabupaten/Kota tanggal 14–16 Februari 2026
•TPID Aceh
Akan dilakukan
Subsidi Ongkos Angkut (SOA) komoditi Gula Pasir dari Sumatera Utara ke Banda Aceh dan Aceh Besar, sebanyak 1.408 sak atau 70,4 Ton ke 4 distributor
•Dinas Pangan Aceh, PT. Pos Indonesia, Aceh
Akan dilakukan
GPM di 5 Kab/Kota IHK (Lhokseumawe 3 Maret, Aceh Tengah 4 Maret, Aceh Barat 9 Maret, Aceh Tamiang 10 Maret, Aceh Besar 11 Maret 2026)
•Dinas Pangan Aceh
Akan dilakukan
Mudik Gratis Pemerintah Aceh tanggal 15, 16, 17 Maret 2026
•Dinas Perhubungan Aceh
Akan dilakukan
Inisiasi Gerakan Menanam Cabai
•Bank Indonesia & Kementerian Keuangan
Akan dilakukan
Pasar Murah Jelang Idul Fitri di 5 kab/kota tanggal 14–16 Maret 2026
•Indag
Pasar Murah Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H
Jadwal ini menunjukkan bahwa pengendalian tidak berhenti pada pengumuman program, tetapi diterjemahkan ke titik pelaksanaan yang tersebar di seluruh Aceh. Cakupan wilayah yang luas penting karena tekanan harga Ramadhan tidak bergerak seragam, sehingga distribusi intervensi perlu hadir dekat dengan kantong konsumsi masyarakat.
Rekomendasi Arahan Pimpinan
Delapan arahan berikut menutup pembacaan inflasi dengan fokus yang sangat operasional. Urutannya bergerak dari pengamanan pasokan, pelaksanaan intervensi di kota IHK, hingga pengawasan lapangan, sehingga prioritas tindak lanjut terbaca lebih tegas dan mudah dipantau.
Dokumentasi Sumber
Glosarium
Istilah kunci yang dipakai dalam laporan sumber.