bencanapemulihanacehsumaterakoordinasi

Laporan Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera

Dokumentasi rapat evaluasi 19 Februari 2026 yang merangkum progres pemulihan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, termasuk status pengungsi, infrastruktur, hunian, serta keputusan strategis pendanaan lintas kementerian.

Khalezar, M.A

Tim Kajian dan Penyusunan Dokumen Platform Tanggapi

19 Februari 202615 menit baca

Laporan Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera

Laporan Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera

Waktu dan Lokasi

Tanggal
19 Februari 2026
Lokasi
Gedung DPR RI, Jakarta
Pimpinan Rapat
Pimpinan DPR RI

Laporan ini merangkum hasil rapat evaluasi dan koordinasi penanganan pasca bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus utama pembahasan mencakup percepatan rehabilitasi-rekonstruksi, validasi data bantuan, pemulihan layanan dasar, dan kesiapan menjelang Ramadhan serta Idul Fitri.

Ringkasan Eksekutif

Rapat menetapkan beberapa keputusan strategis:

  • Alokasi tambahan Transfer Keuangan Daerah (TKD) Rp10,65 triliun.
  • Alokasi dana tanggap darurat Kementerian PU Rp4,3 triliun dari pos khusus.
  • Percepatan pencairan bantuan untuk 8.875 tenaga kesehatan terdampak.
  • Persetujuan bersyarat bantuan kemanusiaan dari diaspora Aceh di Malaysia.
  • Penetapan deadline validasi data untuk mempercepat penyelesaian hunian.

Bagian I: Konteks Bencana dan Dampak

Bencana akhir November 2025 membentuk dua pola gangguan utama: longsor di dataran tinggi dan banjir bandang berlumpur di dataran rendah. Kombinasi keduanya menekan jaringan jalan, permukiman, layanan dasar, dan kapasitas pemerintah lokal secara bersamaan. Pada fase awal, prioritas respons ditentukan terutama oleh besaran dampak manusia dan sebaran titik terdampak.

Dampak Manusia: Korban dan Pengungsian

Skala korban dan pengungsian menjadi indikator utama untuk menentukan fokus operasi darurat lintas wilayah.

Data Korban dan Pengungsi per Provinsi

ProvinsiMeninggalHilangPengungsi AwalPengungsi (19 Feb)
Aceh562291.400.00012.144
Sumatera Utara3764053.523850
Sumatera Barat2677016.1640
Total1.2051391.469.68712.994

Total tercatat: 1.205 meninggal, 139 hilang, 1.469.687 pengungsi awal, dan 12.994 pengungsi tersisa per 19 Februari 2026.

Pengungsi

ProvinsiPengungsi AwalPengungsi (19 Feb)
Aceh

0

100%

0

100%

Sumatera Utara

0

4%

0

7%

Sumatera Barat

0

1%

0

0%

Korban

ProvinsiMeninggalHilang
Aceh

0

100%

0

41%

Sumatera Utara

0

67%

0

57%

Sumatera Barat

0

48%

0

100%

Interpretasi cepat:

  • Penurunan drastis pengungsi di Sumatera Barat (100%) dan Sumatera Utara (98,4%).
  • Aceh masih memiliki 12.144 pengungsi tenda (penurunan 99,1% dari kondisi awal).
  • Sisa pengungsi terkonsentrasi di Aceh (khususnya Aceh Utara 5.197 jiwa) dan kantong residual Tapanuli Tengah 850 jiwa.

Luas Sebaran Dampak Wilayah

Setelah dampak manusia dipetakan, besaran sebaran wilayah terdampak menunjukkan tekanan operasional yang harus dilayani secara simultan.

Sebaran Wilayah Terdampak per Provinsi

ProvinsiKab/Kota TerdampakKecamatan TerdampakDesa/Kampung Terdampak
Aceh18 dari 232033.046
Sumatera Utara18 dari 3363897
Sumatera Barat16 dari 19125568

Interpretasi cepat:

  • Sebaran dampak lintas provinsi bersifat luas, namun tidak merata antarlevel administrasi.
  • Aceh menanggung beban terbesar pada level desa/kampung (3.046), sehingga kebutuhan intervensi bersifat multi-titik.
  • Skala cakupan ini menuntut dukungan logistik, personel, dan akses yang berjalan paralel.

Kerusakan Infrastruktur Permukiman

Dampak fisik pada permukiman menjadi penentu utama kebutuhan rehabilitasi, rekonstruksi, dan skema bantuan rumah.

Kerusakan Infrastruktur per Provinsi

ProvinsiRusak RinganRusak SedangRusak Berat/HilangTotal Rumah Rusak (Data BPS Tervalidasi)
Aceh---78.628
Sumatera Utara---5.625
Sumatera Barat---5.813
Total35.33618.12928.88590.066

Animasi Ikon Rumah: Kerusakan Infrastruktur

ProvinsiTotal Rumah Rusak
Aceh

0

100%

Sumatera Utara

0

7%

Sumatera Barat

0

7%

Catatan kritis validasi:

  • Masih ada 7.716 rumah dalam proses validasi lanjutan.
  • Dari jumlah tersebut, 5.794 rumah belum terklasifikasi dan 1.922 rumah masuk kebutuhan relokasi karena berada di lokasi rawan.

Interpretasi cepat:

  • Beban kerusakan rumah sangat terkonsentrasi di Aceh (78.628 unit).
  • Backlog validasi berisiko memperlambat ketepatan penyaluran bantuan dan penetapan prioritas relokasi.

Desa Hilang dan Implikasi Tata Pemerintahan

Selain kerusakan aset, sejumlah wilayah mengalami kehilangan desa/gampong yang berdampak langsung pada administrasi pemerintahan setempat.

21

desa/gampong

Aceh

8

desa

Sumatera Utara

0

desa

Sumatera Barat

29

desa/gampong hilang

Total

Rincian lokasi utama:

  • Aceh: Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Lues.
  • Sumatera Utara: Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah.

Dampak ini memerlukan penyelesaian bukan hanya teknis-fisik, tetapi juga penataan administratif pemerintahan wilayah terdampak.

Status Layanan Dasar: Pendidikan, Kesehatan, dan Ibadah

Pada fase ini, indikator layanan dasar digunakan untuk menilai apakah fungsi sosial minimum sudah berjalan stabil.

Fasilitas Terdampak dan Status Operasional

FasilitasJumlahStatus
Fasilitas Pendidikan Rusak4.863100% operasional (berbagai kondisi)
Rumah Sakit Umum Daerah87100% operasional
Puskesmas867100% operasional
Rumah Ibadah Rusak2.037Masjid, menasah, gereja

Interpretasi cepat:

  • Layanan kesehatan utama (RSUD dan puskesmas) telah kembali operasional penuh.
  • Fasilitas pendidikan dan rumah ibadah masih menyisakan beban pemulihan kualitas layanan di banyak titik.
  • Peta dampak pada Bagian I menjadi dasar langsung untuk keputusan mobilisasi sumber daya di Bagian II.

Bagian II: Mobilisasi Sumber Daya dan Respons Darurat

Respons darurat Januari-Februari 2026 dijalankan dengan pola berlapis: membangun kapasitas personel lintas institusi, mendistribusikan alat ke wilayah dengan beban tertinggi, lalu menjaga konsistensi eksekusi melalui ritme rapat berjenjang.

Skala Mobilisasi Nasional

Gambar besar pengerahan menunjukkan bahwa operasi tidak ditopang satu unsur saja, melainkan kombinasi institusi inti dan dukungan kementerian/lembaga.

Mobilisasi Personel (Masa Darurat)

Interpretasi cepat:

  • Mobilisasi masa darurat mencapai 90.019 personel, menunjukkan skala respons nasional penuh.
  • TNI dan POLRI menjadi tulang punggung pengerahan awal dan stabilisasi lapangan.
  • Kontribusi gabungan instansi lain menjaga keberlanjutan fungsi sektor pendukung.

Grafik Alutsista per Institusi

Interpretasi cepat:

  • Kapasitas alutsista terkonfirmasi pada dua unsur utama operasional: TNI (80) dan POLRI (17).
  • Komposisi ini memperlihatkan orientasi respons pada percepatan akses, dukungan evakuasi, dan dukungan teknis lapangan.

Distribusi Alat di Wilayah Terdampak

Setelah kapasitas nasional terbentuk, pengerahan alat berat difokuskan mengikuti konsentrasi dampak wilayah.

Grafik Alat Berat per Provinsi

Interpretasi cepat:

  • Konsentrasi alat berat terbesar berada di Aceh (1.358), selaras dengan beban dampak dan kebutuhan pembukaan akses.
  • Sumatera Utara (410) dan Sumatera Barat (417) tetap mendapat dukungan signifikan untuk pemulihan layanan dasar.
  • Distribusi ini menegaskan strategi pengerahan berbasis intensitas kerusakan, bukan pembagian merata.

Kesiapan Personel Aktif (19 Februari 2026)

Per 19 Februari 2026, fase operasi bergerak dari pengerahan puncak menuju penjagaan kesiapan terarah.

  • Total non-relawan: 56.031 personel.
  • Dukungan relawan: Dompet Dhuafa, PMI, dan berbagai organisasi.

Artinya, kapasitas inti tetap kuat untuk menjaga respons lanjutan, sementara dukungan relawan mempertebal jangkauan di titik kebutuhan spesifik.

Ritme Koordinasi Satgas

Ritme komando dijaga melalui rapat berulang lintas level, dari daerah hingga kementerian/lembaga.

Rangkaian Koordinasi Satgas (Januari 2026)

  1. 8 Januari 2026

    Pembentukan Satgas

    Awal konsolidasi respons lintas provinsi.

  2. Januari 2026

    24 kali rapat koordinasi

    Pemetaan masalah dan sinkronisasi prioritas penanganan.

  3. Januari 2026

    Zoom Meeting lintas kepala daerah

    Koordinasi dengan seluruh bupati/walikota terdampak.

  4. 10 Januari 2026

    Rapat di Banda Aceh

    Bersama Forkom Pinda dan bupati/walikota se-Aceh.

  5. 12 Januari 2026

    Rapat di Sumatera Utara

    Melibatkan 33 bupati/walikota.

  6. 13 Januari 2026

    Rapat di Sumatera Barat

    Koordinasi dengan seluruh kepala daerah.

  7. 15 Januari 2026

    Rapat tingkat menteri/pimpinan lembaga

    Evaluasi percepatan dukungan lintas sektor.

  8. 26 Januari 2026

    Rapat tingkat menteri/pimpinan lembaga lanjutan

    Pemutakhiran keputusan operasional dan pendanaan.

Rangkaian koordinasi ini menjadi pengikat antara kapasitas sumber daya dan target hasil lapangan, yang kemudian tercermin pada variasi status pemulihan per wilayah di Bagian III.

Bagian III: Status Pemulihan per Wilayah

Per 19 Februari 2026, profil pemulihan menunjukkan pola yang tidak seragam: Sumatera Barat dan Sumatera Utara didominasi status normal, sementara Aceh masih memikul porsi atensi khusus terbesar. Fokus eksekusi pada fase berikutnya bukan lagi respons umum, melainkan penyelesaian bottleneck spesifik per kabupaten/kota.

Headline Regional

38 dari 52 kabupaten/kota sudah berada pada status normal. Tantangan utama tersisa terkonsentrasi pada 11 wilayah atensi khusus, dengan prioritas pada pemulihan fungsi pemerintahan lokal, jaringan air, akses darat, dan normalisasi sungai.

Indikator dan Variabel Pemulihan

Satgas menggunakan variabel pemulihan lintas layanan dasar untuk menilai kesiapan kabupaten/kota, meliputi:

  1. Pemerintahan (provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan).
  2. Layanan publik kesehatan (RSUD, puskesmas, klinik).
  3. Sarana pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, SMK, madrasah, ponpes).
  4. Akses darat (jalan nasional, provinsi, kabupaten/kota, desa, jembatan).
  5. Ekonomi (pasar, restoran, warung, toko, hotel).
  6. Rumah ibadah (masjid, menasah, gereja).
  7. BBM (SPBU).
  8. Listrik (PLN).
  9. Air (PDAM).
  10. Internet dan komunikasi.
  11. Gas LPG.
  12. Tempat pembuangan sampah dan bank sampah.
  13. Normalisasi sungai.

Kategori status:

  • Normal: semua variabel berfungsi penuh (hijau).
  • Mendekati Normal: sebagian besar variabel baik, beberapa butuh intervensi (kuning).
  • Atensi Khusus: banyak variabel bermasalah dan memerlukan percepatan lintas sektor (merah).

Ringkasan Status Regional (19 Februari 2026)

38

kab/kota

Normal

3

kab/kota

Mendekati Normal

11

kab/kota

Atensi Khusus

52

kab/kota

Total Wilayah Dinilai

Grafik Status Pemulihan per Provinsi

Interpretasi cepat:

  • Sumatera Barat dan Sumatera Utara memiliki komposisi normal yang dominan.
  • Aceh menjadi pusat beban pemulihan lanjutan karena jumlah wilayah atensi khusus paling besar.
  • Prioritas eksekusi antarprovinsi tetap berbeda meski indikator makro sama.

Area Provinsi dan Cerita Pemulihan

Hover untuk preview, klik untuk kunci detail

Normal dominanPerlu intervensiAtensi tinggi

Bagian IV: Progres Pembersihan dan Normalisasi

Pembersihan material bencana menjadi prasyarat langsung untuk membuka akses, menstabilkan layanan dasar, dan menurunkan risiko kejadian berulang. Progres antarjenis pekerjaan menunjukkan capaian yang bergerak, tetapi belum merata antarprovinsi dan antarobjek penanganan. Karena itu, evaluasi pada fase ini berfokus pada posisi backlog dan titik percepatan paling menentukan.

Pembersihan Lumpur

Progres Pembersihan Lumpur per Provinsi

Total kumulatif pembersihan lumpur: 235 dari 337 titik (69,7%).

Interpretasi cepat:

  • Capaian pembersihan lumpur sudah melewati dua pertiga total titik terdampak.
  • Sumatera Barat mencapai 100%, sedangkan Aceh masih menyimpan backlog absolut terbesar.
  • Kecepatan pembersihan lumpur berpengaruh langsung pada pembukaan akses dan pemulihan fungsi layanan harian.

Pembersihan Tumpukan Kayu

Progres Pembersihan Tumpukan Kayu per Provinsi

Interpretasi cepat:

  • Progres pembersihan kayu menunjukkan pola lebih maju dibanding lumpur di dua provinsi.
  • Sumatera Utara mendekati tuntas dan Sumatera Barat sudah selesai penuh.
  • Aceh masih membutuhkan akselerasi agar hambatan material kayu tidak memperlambat tahap pemulihan berikutnya.

Normalisasi Sungai

Status Normalisasi Sungai

Bottleneck Normalisasi Sungai

Backlog daerah masih berada di 27 sungai, dengan prioritas pada koridor banjir berulang dan sedimentasi berat. Akselerasi normalisasi menjadi pengungkit utama untuk menekan risiko gangguan berulang pada akses dan permukiman.

Interpretasi cepat:

  • Kesenjangan eksekusi pusat-daerah masih terlihat pada porsi sungai yang belum tertangani.
  • Normalisasi sungai belum hanya soal infrastruktur air, tetapi juga perlindungan jalur logistik dan permukiman.
  • Titik sungai prioritas harus diperlakukan sebagai kontrol risiko lintas sektor.

69

235/337 titik

Pembersihan Lumpur

86

rata-rata 3 provinsi

Pembersihan Kayu

37

16/43 sungai

Normalisasi Sungai Daerah

Kondisi progres pada Bagian IV menegaskan bahwa percepatan pemulihan konektivitas di Bagian V sangat bergantung pada penuntasan backlog pembersihan dan normalisasi.

Bagian V: Konektivitas dan Infrastruktur Dasar

Konektivitas menjadi penentu kecepatan pemulihan layanan karena menjadi jalur utama distribusi logistik, alat, dan mobilitas petugas. Pada fase ini, hambatan terbesar bukan lagi jalan nasional, tetapi penyelesaian jembatan daerah di titik kritis.

Progres Jembatan Daerah (Bottleneck Konektivitas)

Progres Jembatan Daerah per Provinsi

Interpretasi cepat:

  • Gap terbesar konektivitas masih berada di Aceh dengan progres jembatan 47%.
  • Sumatera Utara mendekati tuntas (95%), sementara Sumatera Barat berada di fase menengah (69%).
  • Penyelesaian jembatan tetap menjadi faktor pembatas utama untuk konektivitas antarwilayah terdampak.

Status Akses Jalan

Status Akses Jalan per Provinsi

ProvinsiJalan NasionalJalan Daerah
Aceh100%92%
Sumatera Utara100%99%
Sumatera Barat100%90%

Interpretasi cepat:

  • Akses jalan nasional telah pulih penuh (100%) di seluruh provinsi.
  • Gap konektivitas tersisa berada pada jalan daerah dan keterhubungannya dengan progres jembatan.
  • Kombinasi jalan daerah belum penuh dan jembatan tertunda menjadi sumber friksi mobilitas lapangan.

Catatan cakupan:

  • Jalan daerah mencakup jalan provinsi, kabupaten, kota, dan desa.
  • Pada koridor jembatan nasional, tiga provinsi sudah 100% fungsional, namun sebagian solusi masih menggunakan metode temporer (Bailey/Armco).

62

unit

Jembatan Bailey (TNI)

74

unit

Jembatan Armco (TNI)

37

unit

Jembatan Perintis (TNI)

Progres Jembatan Dibangun POLRI

ProvinsiTotalSelesaiProses
Aceh22175
Sumatera Utara541
Sumatera Barat14104
Total4131 (76%)10 (24%)

100

semua provinsi

Jalan Nasional

90

Sumatera Barat

Jalan Daerah Terendah

47

Aceh

Jembatan Terendah

Penyambungan akses saat ini masih mengandalkan jembatan sementara (Bailey/Armco/perintis) sambil menunggu penyelesaian permanen. Ketergantungan ini membantu kontinuitas layanan, tetapi tetap meningkatkan risiko gangguan ulang pada koridor prioritas.

Kesenjangan konektivitas inilah yang kemudian memengaruhi kecepatan delivery bantuan rumah dan hunian, yang dibahas pada Bagian VI.

Bagian VI: Skema Bantuan dan Pembiayaan

Skema Bantuan Rumah

Kategori KerusakanBesaran Bantuan
Rusak RinganRp15.000.000
Rusak SedangRp30.000.000
Rusak Berat / HilangRp60.000.000 (indeks tunai)

Pilihan untuk rusak berat/hilang:

  1. Huntara (hunian sementara).
  2. DTH (Rp600.000/bulan selama 3 bulan).
  3. Huntap (mandiri/satu hamparan sesuai skema).

Progres Huntara

Progres Pembangunan Huntara

Total progres huntara: 8.290 dari 16.688 unit (50%).

Progres Huntap

ProvinsiRencanaTerbangunProgres
Aceh9.2463023,3%
Sumatera Utara3.4622978,6%
Sumatera Barat3.62165518,1%
Total16.3291.2547,7%

Bagian VII: Keputusan Strategis Rapat

Bagian ini merangkum keputusan fiskal-operasional yang paling menentukan laju pemulihan pada fase berikutnya. Fokus rapat bukan hanya persetujuan anggaran, tetapi juga kejelasan mekanisme, tenggat, dan akuntabilitas eksekusi lintas lembaga.

Rapat menyepakati sembilan keputusan utama:

  1. TKD tambahan Rp10,65 triliun untuk cakupan provinsi terdampak, dengan penyaluran bertahap 40%-30%-30%.
  2. Dana tanggap darurat PU Rp4,3 triliun dialokasikan dari pos khusus (bukan BNPB).
  3. Usulan ABT lintas K/L diproses melalui mekanisme BAPPENAS -> Satgas -> Kemenkeu.
  4. Dukungan perbaikan fasilitas kesehatan Rp529,3 miliar dipercepat melalui jalur ABT.
  5. Renovasi rumah tenaga kesehatan (8.875 unit) diprioritaskan sebelum lebaran.
  6. Dukungan rehabilitasi pendidikan Rp2,4 triliun diproses sesuai mekanisme ABT.
  7. Bantuan diaspora Aceh di Malaysia disetujui dengan pengawasan distribusi ketat.
  8. Deadline validasi data ditetapkan untuk mempercepat penyelesaian hunian.
  9. Target Huntara diprioritaskan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri, terutama untuk Aceh.

Keputusan Pendanaan Strategis

Keputusan Pendanaan Strategis

KomponenNilaiMekanismeTarget Eksekusi
TKD TambahanRp10,65 triliunPenyaluran bertahap 40%-30%-30%Mulai akhir Februari 2026
PU - Tanggap DaruratRp4,3 triliunPos khusus (bukan BNPB)Segera setelah penetapan anggaran
ABT Lintas K/L (Usulan)Rp43 triliunBAPPENAS -> Satgas -> KemenkeuBertahap sesuai persetujuan
Kemenkes - FasilkesRp529,3 miliarMelalui ABTPercepatan fase rekonstruksi
KemendikdasmenRp2,4 triliunMelalui ABTPercepatan rehabilitasi sekolah

Distribusi TKD Tambahan per Provinsi

Distribusi TKD Tambahan per Provinsi

Deadline dan Titik Kendali Eksekusi

Revisi TKD dan DIPA
Paling lambat 28 Februari 2026
Penyaluran TKD Tahap I
Februari 2026 (40%)
Penyaluran TKD Tahap II-III
Maret-April 2026 (30%-30%)
Rumah Nakes
Percepatan pencairan sebelum Lebaran (8.875 unit)
Validasi Data Hunian
Ditetapkan berbasis deadline untuk percepatan eksekusi
Huntara
Target selesai sebelum Idul Fitri, terutama Aceh

Implikasi operasional:

  • Keputusan pendanaan kini memiliki jalur eksekusi yang lebih jelas lintas lembaga.
  • Bottleneck berpindah dari “persetujuan kebijakan” ke “disiplin implementasi sesuai tenggat”.
  • Ketepatan validasi data tetap menjadi syarat agar pendanaan hunian tersalur tepat sasaran.

Bagian VIII: Layanan Dasar dan Utilitas

Setelah keputusan pendanaan ditetapkan, ukuran keberhasilan lapangan bergeser pada kestabilan layanan harian: energi, air, komunikasi, dan denyut ekonomi lokal. Pada fase ini, mayoritas indikator sudah mendekati normal, tetapi gangguan residu di titik tertentu masih berisiko menahan kualitas pemulihan.

BBM dan Gas

Status Operasional SPBU per Provinsi

ProvinsiOperasionalCatatan
Aceh97%5 SPBU belum operasional
Sumatera Utara100%Semua operasional
Sumatera Barat100%Semua operasional

100

3 provinsi

SPBE LPG

100

3 provinsi

Agen LPG

5

unit (Aceh)

SPBU Belum Operasional

Interpretasi cepat:

  • Sistem pasokan energi sudah stabil secara regional.
  • Gangguan BBM bersifat lokal, terkonsentrasi di Aceh.
  • Prioritas operasional: menutup gap akhir layanan SPBU agar setara dengan stabilitas LPG.

Listrik

Status Operasional Listrik per Provinsi

ProvinsiOperasionalCatatan
Aceh99,9%Beberapa desa Aceh Tengah masih bergantung genset karena akses jalan hilang
Sumatera Utara99,9%Tapanuli Tengah terdampak banjir berulang, perbaikan dilakukan PLN
Sumatera Barat100%Semua operasional

Kasus Kritis Aceh Tengah

Fenomena tanah amblas menumbangkan tower SUTET dua hari sebelum rapat. Jaringan listrik sebelumnya sudah dipindah 150 meter atas koordinasi Satgas-PLN, sehingga risiko blackout total Aceh Tengah-Bener Meriah dapat dihindari.

Interpretasi cepat:

  • Keandalan listrik hampir penuh, namun masih sensitif pada titik geologi dan banjir berulang.
  • Mitigasi proaktif (pemindahan jaringan sebelum tower roboh) terbukti menekan risiko sistemik.
  • Titik residual listrik harus dipantau bersamaan dengan pemulihan akses darat.

Air Bersih (PDAM)

Sumatera Barat
Tanah Datar, Padang Pariaman
Sumatera Utara
Tapanuli Tengah (jaringan rusak)
Aceh
Aceh Tengah, Pidie Jaya, Aceh Tamiang (jaringan rusak)
Solusi Operasional
Sumur bor multipihak (TNI, POLRI, Pemda, Kementerian PU, Danantara) dan percepatan perbaikan jaringan PDAM

Sebaran Wilayah Prioritas Perbaikan PDAM

Internet dan Komunikasi

100

regional

Status Umum Komunikasi

2

hotspot utama

Wilayah Exception

Genset

dukungan komunikasi

Mitigasi

Status Umum
Layanan internet dan komunikasi normal di seluruh wilayah terdampak
Exception Aceh
Beberapa desa Aceh Tengah saat listrik belum masuk penuh
Exception Sumut
Tapanuli Tengah saat banjir berulang memicu gangguan listrik

Interpretasi cepat:

  • Komunikasi bukan lagi bottleneck mandiri, tetapi layanan dependen terhadap stabilitas listrik.
  • Titik gangguan komunikasi identik dengan hotspot listrik residual.

Pasar dan Ekonomi

Progres Operasional Pasar Rakyat

ProvinsiTerdampakOperasionalProgres
Aceh1169985,3%
Sumatera Utara4747100%
Sumatera Barat33100%

Status Operasional UMKM (Warung, Toko, Kafe)

Fokus Intervensi Ekonomi Aceh

Di Aceh, masih ada 17 pasar yang memerlukan dukungan operasional Kementerian Perdagangan, dan tingkat operasional UMKM baru 66%. Ini menjadikan pemulihan ekonomi lokal sebagai prioritas lintas kementerian pada fase berikutnya.

Bagian ini menunjukkan bahwa utilitas inti secara umum sudah stabil, tetapi titik rapuh masih terkonsentrasi pada hotspot berulang. Penguatan kualitas data lintas lembaga menjadi prasyarat sebelum memasuki analisis risiko struktural pada Bagian X.

Bagian IX: Peran Badan Pusat Statistik (BPS)

Pada fase pemulihan, BPS berfungsi sebagai data quality gatekeeper agar bantuan dan kebijakan berbasis angka yang tervalidasi, bukan sekadar agregasi cepat. Bagian ini menempatkan BPS sebagai penghubung antara data lapangan, validitas administratif, dan kecepatan keputusan lintas kementerian.

Mandat dan Metodologi BPS

Alur Kerja BPS dalam Siklus Data Pemulihan

  1. Tahap 1

    Konsolidasi Data Prabencana

    Membangun baseline sebelum kejadian sebagai pembanding dampak pascabencana.

  2. Tahap 2

    Respons Cepat Data Pascabencana

    Merekam perubahan kondisi rumah tangga dan aset terdampak segera setelah kejadian.

  3. Tahap 3

    Pemadanan, Verifikasi, dan Validasi

    Memadankan data usulan daerah dengan standar verifikasi lintas aparat dan instansi.

  4. Tahap 4

    Pendataan Lapangan Intensif

    550 mahasiswa dan pegawai BPS diturunkan ke wilayah terdampak untuk verifikasi langsung.

  5. Tahap 5

    Integrasi Lintas K/L

    Menggabungkan data dari kementerian/lembaga ke struktur tunggal yang konsisten.

  6. Tahap 6

    Dashboard Data Tunggal

    Menyediakan satu sumber data keputusan untuk sinkronisasi pendanaan dan intervensi.

Implikasi operasional:

  • Rantai kerja BPS didesain untuk menekan false positive penerima bantuan.
  • Kecepatan validasi menentukan ritme pencairan hunian, rehabilitasi, dan perlindungan sosial.
  • Kualitas data menjadi faktor penentu setara dengan ketersediaan anggaran.

Fokus Verifikasi dan Validasi Rumah Rusak

Usulan Awal
Nama calon penerima diusulkan oleh kepala daerah
Pemeriksaan
Diperiksa aparat daerah sebelum masuk proses legalisasi
Legalitas
Ditandatangani Kapolres dan Kajari (SK tiga pihak)
Pengawasan
Kodim melakukan pengawasan proses di lapangan
Validasi Akhir
BPS melakukan verifikasi dan validasi final

Juknis Klasifikasi Kerusakan Rumah

KategoriAmbang TeknisArah Kebijakan
Rusak RinganLumpur 20 cm - 50 cmPerbaikan struktural ringan dan pemulihan fungsi cepat
Rusak SedangLumpur >50 cm - 2 meterPerbaikan menengah dengan kebutuhan dukungan teknis lebih besar
Rusak Berat/Hilang>2 meter atau hilang/hanyutRekonstruksi/relokasi dan skema bantuan prioritas tinggi

Hasil Verifikasi BPS

Cakupan SK dan Status Pengusulan Daerah

IndikatorNilaiCatatan
SK tiga pihak (9 Februari 2026)25 kab/kota32.464 record
SK tiga pihak (17 Februari 2026)37 kab/kotaPerluasan cakupan validasi
SK baru (Bupati/Walikota)8 kab/kotaBelum memenuhi skema tiga pihak
Tidak mengusulkan7 kab/kotaMenjadi backlog administratif

Pipeline Validasi Data Rumah Rusak (17 Februari 2026)

TahapJumlahKonversi
Total record SK 3 pihak52.776Input awal
Setelah ditunggalkan (NIK unik)47.686 KK90,4% dari input
Teridentifikasi jenis kerusakan44.742 KK93,8% dari NIK unik

Komposisi Kerusakan Tervalidasi BPS

85.627

record

Total Record Seluruh SK

72.361

NIK

NIK Unik Setelah Ditunggalkan

7.716

record

Dalam Proses Validasi

Masalah 1
NIK kosong pada sebagian usulan
Masalah 2
NIK tidak padan dengan basis data kependudukan
Masalah 3
Duplikasi NIK dalam satu atau lebih usulan
Masalah 4
Satu keluarga tercatat dengan lebih dari satu NIK bantuan

Isu Data dan Permintaan Deadline

Tekanan Utama
Validasi berlarut berisiko menunda eksekusi hunian dan bantuan
Arah Usulan
Tetapkan deadline validasi agar keputusan bisa berjalan paralel dengan penyempurnaan data
Isu Sensitif
Standarisasi nilai bantuan BNPB (mandiri) dan Kementerian PKP (satu hamparan) untuk mencegah kecemburuan sosial
Respons Rapat
Pimpinan rapat menyetujui urgensi deadline sebagai pengunci eksekusi

Pesan Kunci Tata Kelola Data

Deadline validasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara ketelitian data dan kecepatan implementasi. Tanpa tenggat yang tegas, bottleneck administratif dapat menahan dampak kebijakan di lapangan.

Bagian IX menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan bukan hanya soal besaran dana, tetapi juga disiplin tata kelola data. Risiko yang masih tersisa akibat ketidakpastian data kemudian dipetakan lebih lanjut pada Bagian X.

Bagian X: Tantangan Kritis

Walau keputusan strategis telah ditetapkan, fase implementasi masih menghadapi simpul risiko lintas sektor. Tantangan pada bagian ini bukan sekadar daftar masalah, tetapi faktor penghambat yang dapat menunda dampak nyata di lapangan bila tidak ditangani cepat dan terkoordinasi.

Matriks Isu Kritis dan Dampak Operasional

Matriks Isu Kritis dan Dampak Operasional

IsuLokasi UtamaFakta KunciDampak OperasionalPrioritas Tindak LanjutSkor
Ketidaksinkronan data pengungsi lintas sumberLintas provinsiMuncul perbedaan angka 12.994 vs 23.114, dan agregat rincian hingga sekitar 46.000.Alokasi bantuan berisiko tidak tepat sasaran dan menunda keputusan operasional.Sinkronisasi satu data pengungsi berbasis verifikasi lintas lembaga.5/5 • Sangat Tinggi
Fenomena tanah amblas Aceh TengahAceh Tengah - Bener MeriahTower SUTET roboh setelah jaringan dipindah 150m; sekitar 9 desa sempat terisolasi.Risiko blackout, gangguan logistik, serta keterputusan layanan listrik-komunikasi.Mitigasi geologi, perlindungan koridor listrik, dan penguatan akses desa terisolasi.5/5 • Sangat Tinggi
Banjir berulang Tapanuli TengahTapanuli TengahBanjir kembali menjelang rapat; tersisa 850 pengungsi tenda; infrastruktur yang sudah pulih rusak kembali.Siklus kerusakan ulang menekan biaya, waktu, dan stabilitas layanan dasar.Percepatan sabo dam, normalisasi sungai, dan proteksi infrastruktur kunci.5/5 • Sangat Tinggi
Aceh Tamiang: fungsi pemerintahan belum pulih penuhAceh Tamiang47 kantor terdampak lumpur sudah dibersihkan, tetapi banyak unit kerja belum memiliki mebel dan komputer operasional.Pendataan dan layanan administrasi publik berjalan di bawah kapasitas ideal.Percepatan dukungan sarana kerja dan eksekusi tambahan TKD sekitar Rp72 miliar untuk pemulihan fungsi pemerintahan.4/5 • Tinggi
Penyelesaian desa/gampong hilangAceh (21), Sumut (8), Sumbar (0)Total 29 desa/gampong hilang memerlukan keputusan administrasi, relokasi, dan pendanaan desa.Ketidakpastian tata kelola lokal berisiko menahan pemulihan sosial-ekonomi.Kebijakan administratif terpadu untuk status desa, relokasi, dan sarana pemerintahan desa.4/5 • Tinggi
Friksi anggaran dan koordinasi antar-lembagaLintas kementerian/lembagaUsulan PU multiyears Rp74 triliun dengan kebutuhan tanggap darurat Rp4,3 triliun sempat memicu friksi jalur persetujuan dan sumber dana.Ketidakpastian pembiayaan meningkatkan risiko perlambatan eksekusi dan beban kontraktual.Kunci sumber dana khusus dan disiplin eksekusi sesuai mekanisme keputusan rapat.4/5 • Tinggi
Kompleksitas pembelajaran daruratAceh, Sumut, SumbarPembelajaran tetap berjalan, tetapi 99 sekolah masih di tenda/darurat dan 22 sekolah menumpang; sebagian masih shift dan minim sarana kelas.Kualitas belajar menurun, jam belajar tidak optimal, dan risiko ketimpangan layanan pendidikan meningkat.Percepatan rehabilitasi sekolah, dukungan fasilitas belajar, dan penguatan transisi ke kelas normal.3/5 • Sedang

Implikasi lintas sektor:

  • Ketidakpastian data pengungsi dan desa hilang berpotensi menggeser akurasi sasaran bantuan.
  • Risiko geologi, banjir berulang, dan jembatan belum pulih penuh dapat memicu kerusakan ulang dan biaya pemulihan berulang.
  • Mutu layanan pendidikan dan administrasi pemerintahan lokal menjadi indikator sosial yang paling sensitif pada fase transisi.

Prioritas 30 hari:

  • Kunci satu data pengungsi lintas sumber untuk basis alokasi bantuan.
  • Pastikan pembiayaan tanggap darurat dan rehabilitasi kritis tidak tertahan di level koordinasi.
  • Tutup celah layanan paling rapuh: kantor pemerintahan lokal, sekolah darurat, dan wilayah banjir berulang.

Fokus Kendali Eksekusi

Keberhasilan keputusan strategis pada Bagian VII akan ditentukan oleh kemampuan menutup tujuh isu kritis ini secara paralel: data, akses, tata kelola, pendanaan, dan kualitas layanan dasar.

Bagian XI: Kesimpulan Rapat dan Tindak Lanjut

Bagian ini merangkum keputusan akhir rapat menjadi paket eksekusi lintas kementerian/lembaga. Fokus fase berikutnya bukan lagi merumuskan kebijakan baru, tetapi memastikan keputusan yang sudah disepakati berjalan tepat waktu, tepat sasaran, dan terkoordinasi hingga level daerah.

9

keputusan

Poin Kesimpulan Resmi

Rp10,65 triliun

alokasi utama

TKD Tambahan

Rp4,3 triliun

pos khusus

Dana Tanggap Darurat PU

Kesimpulan Resmi Rapat

Matriks 9 Keputusan Resmi Rapat

NoKeputusanNilai/SkemaMekanismeTarget
1Transfer Keuangan Daerah (TKD) tambahanRp10,65 triliun (40%-30%-30%)Penyaluran bertahap ke 60 kab/kotaMulai akhir Februari 2026
2Anggaran PU untuk tanggap daruratRp4,3 triliunPos khusus, bukan dari BNPBSegera dieksekusi
3ABT lintas K/LRp43 triliun (usulan)BAPPENAS -> Satgas -> Kementerian KeuanganBertahap sesuai persetujuan
4Perbaikan fasilitas kesehatan (Kemenkes)Rp529,3 miliarMelalui mekanisme ABTPercepatan fase rekonstruksi
5Renovasi rumah tenaga kesehatan8.875 unitPercepatan pencairan dana BNPBSebelum lebaran
6Rehabilitasi pendidikan (Kemendikdasmen)Rp2,4 triliunMelalui mekanisme ABTPercepatan rehabilitasi sekolah
7Bantuan diaspora Aceh di MalaysiaDisetujui dengan pengawasan ketatTNI/POLRI kawal distribusi dari pelabuhanPenyaluran langsung ke pengungsian
8Deadline validasi data hunianValidasi dipercepat + standarisasi bantuan BNPB/PKPPenguncian tenggat lintas lembagaSegera untuk percepatan eksekusi
9Penyelesaian HuntaraPrioritas Aceh (capaian masih 50%)Akselerasi lintas sektorSebelum Idul Fitri
Penyaluran TKD
Dimulai akhir Februari 2026, skema 40%-30%-30%
Rumah Nakes
8.875 unit dipercepat selesai sebelum lebaran
Huntara
Target selesai sebelum Idul Fitri, terutama Aceh
Validasi Data
Deadline wajib untuk menghindari bottleneck eksekusi hunian

Komitmen Komisi-Komisi DPR RI

Komitmen Pengawalan Komisi DPR RI

KomisiMandat PengawalanFokus OperasionalIntensitas
Komisi 8Agama, sosial, pemberdayaan perempuanPengawalan bansos dan validasi data pengungsiTinggi
Komisi 5Perhubungan, telekomunikasi, PU, perumahanPercepatan infrastruktur dan konektivitas lebaranSangat Tinggi
Komisi 10Pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, ekrafPanja Pendidikan Pascabencana (19 Februari 2026), respons 4.000+ sekolah terdampakSangat Tinggi
Komisi 6Perdagangan, industri, koperasi, UMKM17 pasar Aceh belum penuh operasional dan UMKM Aceh baru 66%Tinggi

Makna Operasional Komitmen Komisi

Pengawalan DPR RI memperkuat disiplin implementasi: pendanaan, infrastruktur, layanan pendidikan, dan pemulihan ekonomi dipantau sebagai satu paket kebijakan yang saling terhubung.

Arahan Pimpinan DPR RI

Arahan 1
Deadline validasi data harus tegas agar keputusan berjalan cepat dan pasti
Arahan 2
Dukungan penuh DPR RI untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi
Arahan 3
Apresiasi terhadap kerja Satgas, TNI/POLRI, dan seluruh kementerian/lembaga
Arahan 4
Koordinasi berkelanjutan dan pelaporan rutin lintas level pemerintahan

Kontrol Risiko Fase Lanjutan

Keterlambatan validasi data atau melemahnya koordinasi lintas lembaga akan langsung mengganggu ritme penyelesaian hunian, layanan dasar, dan pemulihan ekonomi di daerah terdampak.

Tindak lanjut operasional 30-45 hari:

  • Kunci deadline validasi agar anggaran hunian dapat dieksekusi tanpa menunggu data sempurna absolut.
  • Jaga ritme pencairan keputusan fiskal dan penyelesaian target sebelum Idul Fitri 2026.
  • Perkuat pelaporan rutin pusat-daerah untuk memastikan seluruh indikator pemulihan bergerak konsisten.

Sumber Referensi