Laporan Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Provinsi Aceh
Tema
Progres Penanganan Bencana Fase Transisi Darurat ke Pemulihan
Waktu dan Tempat
Rapat koordinasi penanganan bencana Provinsi Aceh dilaksanakan pada 16 Februari 2026 untuk membahas progres fase transisi dari darurat ke pemulihan. Rapat mengidentifikasi tantangan utama dalam lima klaster penanganan: perlindungan dan pengungsian, logistik, kesehatan, pendidikan, dan pemulihan.
Fokus utama diarahkan pada penuntasan hunian, keberlanjutan layanan dasar, pembukaan akses, dan percepatan pemulihan berbasis data tunggal Provinsi Aceh.
Ringkasan Eksekutif
- Terdapat 988 titik pengungsian dengan 25.717 jiwa pengungsi, dengan tantangan utama pada penuntasan hunian layak.
- Penyaluran logistik menunjukkan progres, namun masih terkendala koordinasi usulan kebutuhan dari sebagian Kabupaten/Kota.
- Kapasitas layanan kesehatan menurun signifikan pada fase transisi, terutama di wilayah terisolir.
- Layanan pendidikan tetap berjalan, tetapi percepatan penyelesaian ruang kelas darurat masih menjadi kebutuhan.
- Fase pemulihan membutuhkan percepatan pembukaan akses, sinkronisasi data tunggal, dan pemanfaatan dukungan anggaran rehabilitasi-rekonstruksi.
A. Klaster Perlindungan dan Pengungsian
Situasi Terkini
- Total 988 titik pengungsian dengan 25.717 jiwa pengungsi, mayoritas kategori rumah rusak berat dan hilang.
- Masih terdapat pengungsi yang belum memiliki hunian sementara (huntara), dengan perbedaan persepsi bahwa tenda dianggap huntara oleh sebagian pihak.
- Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600.000 per bulan telah tersalurkan kepada sekitar 50% penerima.
- Dukungan psikososial telah berjalan, namun cakupannya masih terbatas.
Isu Kritis
- Perbedaan klasifikasi hunian antara tenda dan huntara.
- Identifikasi masyarakat yang belum memperoleh solusi hunian belum tuntas.
- Kebutuhan air bersih dan sanitasi belum optimal di sejumlah lokasi.
- Masih ada warga yang belum menerima DTH, belum mendapat huntara, atau menolak relokasi.
Arahan dan Tindak Lanjut
| No | Tindakan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 1 | Identifikasi dan validasi terpadu seluruh pengungsi yang belum memiliki solusi hunian | Dinas Perkim |
| 2 | Percepatan pergeseran dari tenda ke huntara layak | Dinas Perkim, Dinas Sosial |
| 3 | Pemenuhan air bersih di wilayah yang masih membutuhkan | Dinas Perkim |
| 4 | Sinkronisasi data pengungsi melalui dashboard provinsi sebagai data tunggal | Diskominsa, Dinas Sosial |
B. Klaster Logistik
Situasi Terkini
- Sekretaris Daerah menegaskan pemenuhan logistik tidak boleh tumpang tindih, khususnya untuk penerima jadup.
- Gubernur telah mengirim surat ke BNPB dan memperoleh respons dukungan logistik.
- Beras bantuan dari Pemerintah Konawe sebanyak 100 ton telah terdistribusi ke Kabupaten/Kota sesuai kapasitas pengangkutan yang disediakan.
- Selama pemindahan ke BPBA, sebanyak 39 ton logistik telah diterima.
Isu Kritis
- Sebagian Kabupaten/Kota belum mengajukan kebutuhan logistik resmi ke Provinsi.
- Kendala administratif berupa kebutuhan tanda tangan tiga instansi menghambat penyaluran bantuan sosial.
- Distribusi logistik masih sangat bergantung pada kapasitas Kabupaten/Kota untuk menjemput bantuan.
Arahan dan Tindak Lanjut
| No | Tindakan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 1 | BPBA dan BPBD Kab/Kot ditetapkan sebagai pengendali utama distribusi logistik | BPBA, BPBD Kab/Kot |
| 2 | Kab/Kot diminta segera mengajukan kebutuhan logistik resmi ke Provinsi | BPBD Kab/Kot |
| 3 | Pemantauan distribusi hingga ke huntara dan lokasi pengungsian | BPBA, Dinas Sosial |
C. Klaster Kesehatan
Situasi Terkini
- Pos kesehatan aktif tersisa sekitar 437 pos dan cenderung berkurang.
- Tenaga kesehatan yang awalnya 6.486 orang kini tersisa 164 orang di 5 Kabupaten/Kota.
- Sebagian besar rumah sakit telah beroperasi, namun sebagian masih menghadapi kendala kelembaban dan sarana pendukung.
Isu Kritis
- Keterbatasan hunian, air bersih, MCK, dan transportasi untuk tenaga kesehatan.
- Mobilisasi tenaga kesehatan menjadi beban Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, termasuk keterbatasan ambulans.
- Permintaan layanan kesehatan dari Kabupaten/Kota masih rendah; hanya 5 Kabupaten/Kota aktif meminta dukungan.
- Akses layanan kesehatan di wilayah terisolir masih terbatas.
Arahan dan Tindak Lanjut
| No | Tindakan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 1 | Penambahan pos kesehatan per desa di wilayah terisolir (Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, Aceh Utara) | Dinas Kesehatan |
| 2 | Usulan dukungan mobilisasi tenaga kesehatan selama 3 bulan melalui skema pemulihan kesehatan dan anggaran TKD | Dinas Kesehatan |
| 3 | Penguatan layanan kesehatan mobile hingga masa pengungsian berakhir (sampai huntap tersedia) | Dinas Kesehatan |
D. Klaster Pendidikan
Situasi Terkini
- Pembelajaran tetap berjalan sesuai Surat Edaran Bersama 3 Menteri, dengan pendekatan kearifan lokal selama bulan Ramadhan.
- Pembangunan 45 ruang kelas darurat dan 10 MCK di 13 lokasi SMA sedang berlangsung.
- Progres pembangunan bervariasi antara 25% hingga 90%.
Isu Kritis
- Sebagian ruang kelas darurat belum selesai sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan pembelajaran.
- Dibutuhkan pembaruan berita acara revitalisasi.
Arahan dan Tindak Lanjut
| No | Tindakan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 1 | Memastikan aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung | Dinas Pendidikan |
| 2 | Percepatan penyelesaian ruang kelas darurat dan pemantauan progres lapangan | Dinas Pendidikan |
E. Klaster Pemulihan
Situasi Terkini
- Masa transisi ditetapkan sebagai fase klaster pemulihan.
- Sebanyak 6.060 unit huntara telah terbangun, namun baru 924 unit dihuni.
- DTH baru mencapai 42% dari target (4.929 KK).
- Pembangunan huntap mulai berjalan dengan 104 unit di Aceh Utara.
- Pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran rehabilitasi-rekonstruksi tahap awal Rp54,3 triliun (disetujui), dan tahap 2 sebesar Rp97,2 triliun yang dapat mulai diajukan.
Isu Kritis
- Pembukaan akses jalan dan jembatan masih menjadi prasyarat penting pemulihan.
- Pemulihan ekonomi (sawah dan tambak) sangat bergantung pada infrastruktur irigasi tersier yang menjadi kewenangan provinsi.
Arahan dan Tindak Lanjut
| No | Tindakan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| 1 | Mempercepat pembukaan akses dan pemasangan jembatan Bailey berkoordinasi dengan TNI | Dinas PU, TNI |
| 2 | Mengoordinasikan progres huntara dan penyaluran DTH | Dinas Perkim, Biro Adpem |
| 3 | Identifikasi prioritas pemulihan ekonomi berbasis infrastruktur SDA (irigasi, pengairan) | Dinas PU SDA, Balai SDA |
| 4 | Pemanfaatan TKD untuk rehabilitasi dan rekonstruksi | Tim Terkait |
Kesimpulan dan Penekanan Akhir
Sekretaris Daerah menegaskan empat fokus utama masa transisi:
- Penuntasan hunian melalui percepatan penyediaan huntara dan huntap bagi seluruh pengungsi.
- Keberlanjutan layanan dasar agar kesehatan, pendidikan, dan logistik tetap berjalan optimal.
- Pembukaan akses dengan prioritas pada pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan.
- Percepatan pemulihan berbasis data tunggal Provinsi Aceh untuk koordinasi yang efektif.
Lampiran: Data Kuantitatif
| Indikator | Jumlah |
|---|---|
| Titik Pengungsian | 988 |
| Jumlah Pengungsi | 25.717 jiwa |
| Penerima DTH | 50% (sekitar 4.929 KK) |
| Pos Kesehatan Aktif | 437 pos |
| Tenaga Kesehatan Tersisa | 164 orang |
| Huntara Terbangun | 6.060 unit |
| Huntara Dihuni | 924 unit |
| Huntap (Aceh Utara) | 104 unit |
| Ruang Kelas Darurat | 45 ruang |
| MCK Darurat | 10 unit |
| Anggaran Rehab-Rekon Tahap 1 | Rp54,3 triliun |
| Anggaran Rehab-Rekon Tahap 2 | Rp97,2 triliun |
Laporan ini disusun berdasarkan ringkasan rapat koordinasi penanggulangan bencana Provinsi Aceh tanggal 16 Februari 2026.